Sejarah Budidaya Kambing dan Jenis Kambing Ternakan di Indonesia

Sejarah Budidaya Kambing dan Jenis Kambing Ternakan di Indonesia

By 198904102019021002
April 3, 2026


Asia adalah pusat domestikasi kambing. Diperkirakan domestikasi ternak kambing terjadi 9.000 sampai 11.000 tahun yang lalu. Kambing merupakan hewan ternak yang pertama kali dijinakkan atau nomor dua setelah anjing. Nenek moyang ternak kambing tersebut diyakini berasal dari hewan bezoar atau kambing jinak (C. aegragus hircus) yang merupakan subspecies dari Capra aegragus (kambing liar aegragus).

Para ahli menggolongkan ternak kambing menjadi 6 kelompok, yaitu berdasarkan daerah asal, kegunaan, ukuran tubuh, bentuk telinga, panjang telinga, serta tanduk. Penggolongan berdasarkan daerah asal memberi petunjuk kemampuan adaptasi terhadap iklim dan kondisi lingkungan tertentu. Berdasarkan kegunaannya, kambing diklasifikasikan atas produk yang dihasilkan, yaitu susu (kambing perah), daging (kambing potong), dan bulu (khasmier).

Perbedaan ukuran tubuh kambing umumnya ditentukan dengan menggunakan tinggi pundak. Dengan cara ini kambing digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok besar (di atas 65 cm), kecil (51-65 cm), dan kerdil atau mini (<50 cm). Kambing kelompok besar (berat tubuh 20-63 kg) untuk produksi daging dan/atau susu. Kelompok kecil (berat tubuh 19-37 kg) dan kelompok mini (berat tubuh 18-25 kg) dipelihara untuk produksi daging. Bentuk telinganya digolongkan berdasarkan daun telinga (terbuka lebar atau melipat) dan ukuran panjang telinga (pendek, sedang, dan panjang) yang sangat spesifik untuk setiap breed tertentu. Bentuk telinga sering menjadi faktor yang mempengaruhi harga ternak bersangkutan. Hal yang sama juga terjadi pada tanduk yang digolongkan menjadi panjang, pendek, atau tidak bertanduk.

Kambing merupakan bagian penting dari sistem usahatani bagi sebagian petani gurem di Indonesia, bahkan di beberapa negara Asia. Di Indonesia, populasi kambing terbanyak terdapat di Sumatera dan Jawa – Madura (83 persen) dipelihara oleh mereka yang memiliki lahan terbatas, bahkan tidak mempunyai lahan seperti para buruh atau penggarap. Sebaliknya di negara maju, telah menjadi industri pertanian yang mendatangkan devisa, berbasis pada padang penggembalaan (pastura) dengan penguasaan lahan yang luas dan jumlah pemilikan ternak yang besar.

 

            Jenis kamibing ternakan yang ada atau pernah ada di Indonesia, di antaranya sebagai berikut.

a)      Kambing kacang

Kambing kacang banyak dijumpai di Indonesia, Malaysia, dan Thailand bagian selatan. Asal mula kambing kacang tidak diketahui secara pasti. Indonesia dan Malaysia sama-sama menyatakan bahwa kambing kacang adalah kambing lokal masing-masing. Kambing kacang berukuran kecil dan pendek, telinga kecil dan tegak, lehernya pendek, serta badan bagian belakang meninggi. Jantan dan betina kambing kacang bertanduk dengan tinggi badan 55-65 cm. Adapun berat badan dewasa untuk kambing jantan sekitar 25 kg, sedangkan berat badan betina 20 kg.

b)      Kambing Etawa

Kambing etawa atau disebut juga kambing Jamnapari adalah kambing yang didatangkan dari India. Tinggi kambing jantan berkisar antara 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina hanya mencapai 92 sentimeter. Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari.

c)      Kambing Peranakan Etawa

Kambing PE (Peranakan Etawa) merupakan hasil persilangan antara kambing etawa dari India yang memiliki iklim tropis/subtropis dan kering dengan kambing kacang. Dengan demikian kambing PE telah beradaptasi dengan baik pada lingkungan Indonesia. Menurut tipenya, kambing PE termasuk kambing dwiguna yaitu penghasil daging dan susu. Kambing PE menghasilkan susu rata-rata 1 liter/hari/ekor.

Kambing PE memiliki ciri-ciri atau morfologi yang tidak jauh berbeda dengan kambing etawa, yaitu postur tubuh yang besar, telinga panjang menggantung, muka cembung, dan bulu di bagian paha belakang yang panjang. Kambing PE betina berukuran relatif lebih besar dibanding kambing lokal lainnya dan memiliki puting yang panjang.

Kambing ini memiliki jambul di daerah dahi dan hidung khusus untuk jantan, warna rambut yang khas yaitu hitam atau coklat hanya pada bagian kepala sampai leher dan putih diseluruh tubuh, memiliki gelambir, tanduk yang kecil, telinga yang panjang 20-25 cm dan melipat keluar. Tinggi badan kambing PE dewasa antara 60-120 cm, dan berat badan dewasa antara 25-100 kg. Selain itu, kambing PE memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan.

d)      Kambing Marica

Kambing marica adalah hasil  adaptasi  kambing  kacang yang dibudidayakan secara turun-temurun  dan berkembang   biak di Provinsi Sulawesi Selatan. Umumnya ukuran tubuh kambing marica lebih kecil dari kambing kacang.

e)      Kambing Kosta

Kambing Kosta didapatkan dari persilangan kambing Kacang dan kambing Khasmir banyak ditemukan di sekitar Jakarta dan Banten.

Kambing Kosta yang sangat cocok untuk kategori pedaging ini memiliki tubuh relatif sedang, bertanduk dan berbulu pendek, dan hidung yang cenderung rata. Kambing Kosta memiliki ciri khas yang mudah dikenali, yaitu adanya motif garis sejajar di kiri dan kanan muka kambing. Berat badan bervariasi sekitar 20-46,5 kg/ekor.

f)       Kambing Gembrong

Kambing Gembrong merupakan salah satu jenis kambing yang hampir punah. Berasal dari pulau Bali, terutama Kabupaten Karangasem, kambing Gembrong sekilas dilihat mirip dengan anjing karena bulunya yang sangat lebat. Kambing Gembrong ini bisa didapatkan dengan menyilangkan kambing Khasmir dengan kambing Turki.Ciri-ciri kambing Gembrong berbeda antara kambing jantan dengan kambing betina. Kambing jantan berbulu panjang, lebat, dan cenderung mengilap yang tumbuh dari kepala hingga ekor. Saking lebatnya, kambing Gembrong jantan kesulitan untuk melihat, karena bulunya bisa menutupi matanya. Untuk kambing betina, ciri-cirinya lebih mirip kambing Kacang dengan bagian bawah perut melebar, tanduk pendek, dan bulu yang pendek. Warna kambing Gembrong umumnya berwarna putih, cokelat, atau cokelat muda.

g)      Kambing Boer

Kambing boer adalah kambing yang berasal dari Afrika Selatan. Kata "Boer" artinya petani. Kambing boer merupakan kambing pedaging yang sesungguhnya karena pertumbuhannya sangat cepat. Kambing ini pada umur lima hingga enam bulan sudah dapat mencapai berat 35 – 45 kg, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 – 0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Kambing boer jantan akan tumbuh dengan berat badan 120 – 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun), sedangkan Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80 – 90 kg. Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% – 50% dari berat tubuhnya.

Kambing boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.

Kambing boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrem, mulai dari suhu sangat dingin (-25 derajat celcius) hingga sangat panas (43 derajat celcius) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Secara alamiah mereka adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, tanaman semak daripada rumput.

h)      Kambing Bligon/Jawa Randu

Kambing Jawarandu memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Kambing jawarandu ini merupakan hasil perkawinan Kambing Peranakan Ettawa (PE) dengan kambing lokal (kambing kacang biasanya). Dimana sifat fisiknya lebih dominan kearah kambing kacang. Kambing Jawarandu mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan Kambing Kacang. Berat badan kambing Jawarandu jantan bisa mencapai lebih dari 40 kg, Selain itu kambing Jawarandu menghasilkan susu lebih banyak dibandingkan kambing kacang. Sehingga kambing jawarandu termasuk kambing dwiguna. Kambing jawarandu memiliki temperamen yang gesit dan lincah. Kambing ini mudah diternakkan di Indonesia karena sudah mampu beradaptasi dilingkungan tropis serta pemberian makannya tidak pilih-pilih.

Ukuran tubuh kambing jawarandu lebih kecil daripada kambing peranakan etawah, Moncongnya lancip, jantan dan betina sama-sama memiliki tanduk (lurus atau kesamping), telinganya menggantung atau terkulai serta tidak melipat, Panjang kaki sedang dan bulu kaki panjang maupun pendek, bobot lahirnya sekitar 1,5 sampai 2 kg. Kambing ini berbulu hitam, coklat, coklat tua, coklat belang putih, sawo matang atau kombinasi dari berbagai warna tersebut. Kambing jawarandu mampu tumbuh 50 sampai 100 g/hari.


Kambing Boerka

Kambing unggul boerka  merupakan hasil persilangan pejantan boer (tipe pedaging) dengan induk kambing kacang (tipe prolifik, beranak banyak). Kambing hasil silangan ini lebih unggul dibanding kambing lokal. Pertumbuhannya cepat, bobot tubuhnya lebih besar, dan daya adaptasi terhadap lingkungan tropik basah pun sangat baik.

Kambing boerka  rata-rata memiliki bobot lahir 42 persen lebih berat dibanding kambing kacang. Bobot lahir anak jantan cenderung lebih tinggi dibanding anak betina. Sejak disapih (umur 3 bulan) hingga dewasa (di atas 18 bulan), bobot tubuh kambing boerka  jantan rata-rata lebih tinggi 36-45 persen. Untuk boerka  betina lebih tinggi 26-40 persen dibanding kambing kacang. Pada umur 12-18 bulan, kambing boerka  jantan mencapai bobot tubuh 26-36 kg atau memenuhi persyaratan ekspor. Dengan demikian, kambing boerka  berpotensi dikembangkan secara komersial untuk tujuan ekspor.

Tingkat pertumbuhan anak kambing boerka  pra sapih rata-rata 118 g/hari, jauh lebih tinggi dibanding anak kambing kacang yang hanya 52-70 g/hari. Laju pertumbuhan kambing boerka  selama pasca sapih juga lebih tinggi dibanding kambing kacang. Pada umur 3-6 bulan, misalnya, laju pertumbuhan kambing boerka  lebih tinggi rata-rata 42 persen dibanding kambing kacang. Laju pertumbuhan yang lebih tinggi memungkinkan kambing boerka  mencapai bobot potong pada umur yang lebih muda.

 

j)       Kambing Boerawa/Boereta

Kambing Boerawa merupakan jenis kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dan kambing Peranakan Etawa (PE) betina. Kambing Boerawa saat ini telah berkembang biak dan menjadi salah satu komoditi ternak unggulan di berbagai provinsi di Indonesia. Postur tubuh kambing ini cukup tinggi dan relatif besar. Pertambahan berat badan dapat mencapai 100-150 gram per hari dan mencapai berat potong sekitar 30-40 kg pada umur 12 bulan. Persentase karkas cukup tiggi, yaitu 48-50%.

Kambing Boerawa memiliki ciri kambing Boer dengan kambing PE sebagai tetuanya. Penampilan kambing Boerawa lebih mirip dengan kambing PE namun telinganya lebih pendek daripada kambing PE dengan profil muka yang sedikit cembung. Selain itu, kambing Boerawa juga memiliki badan yang lebih besar dan padat daripada kambing PE sehinggga jumlah daging yang dihasilkan lebih banyak. Kambing Boerawa memiliki beberapa keunggulan antara lain pertumbuhannya yang tinggi yaitu 0,17 kg/hari. Bobot lahir kambing Boerawa mencapai 3,7 kg dengan pertambahan bobot tubuh mencapai 0,17 kg/hari. Bobot tubuh kambing Boerawa umur 8 bulan dapat mencapai 40 kg.

 

k)      Kambing Saanen

Kambing saanen merupakan kambing yang berasal dari lembah Saanen, Swiss bagian barat dimana kambing saanen ini merupakan salah satu jenis kambing terbesar di Swiss serta sudah tercata sebagai penghasil susu kambing yang terkenal di dunia. Namun sangat disayangkan, Kambing ini cukup sulit jika harus dikembangkan di wilayah tropis karena memiliki kepekaan terhadap matahari. Oleh sebab itu di Indonesia jenis kambing ini  dalam perkembanganya disilangkan lagi dengan jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis dan tetap diberi nama kambing saanen, salah satu persilangan yang cocok dengan kambing saanen antara kambing peranakan etawa.

Kambing ini tergolong dalam kategori kambing perah yang mampu menghasilkan susu yang cukup banyak, bila dirata-rata kambing ini mampu menghasilkan susu kurang lebih 3,8 liter untuk perharinya, dalam susu tersebut terdapat kandungan lemak hingga 2,5% hingga 3%. Untuk bisa menghasilkan susu yang mempunyai kandungan berkualitas biasanya para peternak memberinya makanan berupa rumput, jerami, biji-bijian dan minuman kira-kira setidak sedikit 3 liter air perharinya.

Ciri-ciri kambing Saanen diantaranya berbulu pendek berwarna putih atau krim dengan titik hitam di hidung, telinga dan di kelenjar susu. Hidungnya lurus dan muka berupa segitiga. Telinganya sederhana dan tegak ke sebelah dan ke depan. Ekornya tipis dan pendek. Jantan dan betinanya bertanduk. Berat dewasa 68-91 kg (Jantan) dan 36kg - 63kg (Betina), tinggi ideal kambing ini 81 cm dengan berat 61 kg, di saat tingginya 94 cm beratnya 81 kg.

 

l)       Kambing Toggenburg

Kambing Toggenburg merupakan kambing yang telah berkembangbiak dan dibudidayakan di wilayah Toggenburg, Swiss. Kambing Toggenburg merupakan kambing hasil keturunan dari kambing Alpine yang berasal dari Inggris. Kambing Toggenburg merupakan salah satu jenis kambing tertua yang dibudidayakan untuk dimanfaatkan susunya. Kambing Toggenburg sangat produktif. Pada usia 7-8 bulan betina kambing Toggenburg sudah mampu berproduksi. Hal ini menjadi kelebihan tersendiri jika memilih kambing Toggenburg untuk dijadikan kambing perah karena setelah lepas sapih kita hanya perlu menunggu sekitar 10 bulan agar kambing bisa memproduksi susu. Hal ini lebih cepat dibandingkan dengan jenis kambing lainnya.

Kambing perah ini memiliki warna seragam dan jarang yang memiliki beberapa warna sekaligus dalam satu tubuh. Warnanya mulia dari coklat keuningan sampai coklat tua gelap. Pada bagian kepala memiliki warna putih demikian juga pada bagian telinga dan kakinya ( mulai dari bagian lutut ke bawah ). Kambing ini memiliki tanda putih yang berbeda: telinga putih dengan bercak gelap di tengah; dua garis putih di wajah dari atas masing-masing mata untuk moncong; kaki belakang putih dari hocks untuk kuku; kaki depan dari lutut ke bawah putih dengan garis gelap di bawah lutut diterima , sebuah segitiga putih di kedua sisi ekor.

 

m)   Kambing Alpinee

Kambing Alpine adalah kambing asli yang berasal dari pegunungan Alpen di Swiss. Akan tetapi, kambing Alpine menyebar di seluruh dataran di Eropa.  Kambing Alpine banyak diternakkan di Amerika Serikat. Kambing Alpine rata-rata memiliki warna bulu putih kekuning-kekuningan, hitam , coklat, kemerah-merahan atau warna tebing bahkan banyak juga warna kobinasi dari warna-warna yang ada di atas. Kambing Alpine berukuran lebih besar jika dibandingkan dengan kambing Swiss asli.

Kambing Alpine merupakan salah satu kambing yang memiliki ukuran tubuh yang besar jika dibandingkan dengan jenis kambing lainnya. Kambing Alpine jantan dapat mencapai ukuran 34-40 inci saat berdiri. Sedangkan pada kambing Alpine betina memiliki ukuran atau postur tubuh yang juga besar yakni tidak kurang dari 30 inchi saat berdiri. Selain memiliki ukuran tubuh yang tinggi dana besar, berat kambing Alpine juga tinggi. Untuk kambing Alpine pejantan sendiri memiliki ukuran berat yang tidak kurang dari 170 kg. Sedangkan pada kambing Alpine betina dapat mencapai berat tubuh tidak kurang dari 135 kg pada betina dewasa. Kambing Alpine juga merupakan kambing yang bersifat adaptif atau memiliki sifat yang mampu bertahan atau beradaptasi pada kondisi atau cuaca tertentu. Kambing Alpine dapat dengan mudah menyesuaikan dengan kondisi dan lingkungan apapun baik kondisi wilayah tersebut beriklim tropis maupun sedang.

n)      Kambing Nubian

Kambing Nubian merupakan kambing Afrika yang khusus digunakan sebagai kambing perah. Pada beberapa strain baik yang jantan maupun betina kambing ini bertanduk, tetapi ada juga strain yang tidak bertanduk. Warna bulu umumnya hitam, coklat dan bulunya pendek mengkilap. Garis muka sedikit cembung dan telinga agak panjang menggantung.