Prospek dan Keuntungan Ternak Kambing

Prospek dan Keuntungan Ternak Kambing

By 198904102019021002
April 3, 2026


Kambing mempunyai peran yang sangat strategis bagi kehidupan masyarakat dan berkembang di hampir seluruh wilayah Indonesia. Kambing mampu berkembang dan bertahan di semua zona agroekologi dan hampir tidak terpisahkan dari sistem usahatani. Pemasaran produk kambing sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan warung sate kambing, dan hanya sebagian kecil dipasarkan untuk keperluan konsumsi rumah tangga. Namun hasil ikutannya berupa kulit sangat penting bagi industri kulit skala besar maupun rumah tangga. Fungsi dan peran terpenting lainnya dari ternak ini adalah untuk kepentingan dalam sistem usahatani, serta sosial budaya seperti: qurban dan akikah, seni ketangkasan domba, dan penghasil susu yang berasal dari kambing Peranakan Etawa (PE) atau bangsa (breed) lainnya.

Saat ini ternak kambing sebagian besar masih diusahakan secara sambilan dengan tingkat kepemilikan sekitar 2-8 ekor/keluarga, walaupun di beberapa daerah seperti Cirebon dan Sumatera Utara ada yang memiliki ternak dengan rata-rata lebih dari 50 ekor. Hal ini disebabkan karena berbagai keterbatasan seperti: modal, sumberdaya lahan dan pengetahuan. Penjualan hasil dilakukan berdasarkan pada kebutuhan peternak saat itu, bukan melalui pertimbangan teknis maupun ekonomis usaha. Harga jual ternak dilakukan berdasarkan kondisi atau tampilan, bukan bobot badan. Fluktuasi harga sangat ditentukan oleh musim dan situasi tertentu misalnya paceklik, dan pada saat menjelang hari raya qurban biasanya harga penjualannya meningkat sangat tinggi. Namun biasanya yang lebih menikmati peningkatan harga pada saat tersebut maupun pada hari biasa adalah pedagang perantara atau pedagang di kota besar. Sistem pemasaran yang masih sederhana dan panjangnya rantai pemasaran merupakan salah satu penyebab tingginya kehilangan bobot badan, dan hal ini merugikan peternak sebagai produsen maupun konsumen yang terpaksa membayar harga yang lebih tinggi.

Kontribusi kambing dalam memenuhi kebutuhan daging nasional relatif masih kecil, sekitar 3-4 persen. Saat ini permintaan di dalam negeri masih dapat dicukupi oleh produk lokal. Namun terdapat kecenderungan yang nyata bahwa dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan tingginya tingkat urbanisasi, permintaan daging kambing cenderung terus meningkat. Kondisi ini harus diantisipasi dengan mendorong investasi agar usaha peternakan kambing lebih produktif, efektif dan efisien sehingga mampu memenuhi pasar domestik. Permintaan lain yang diduga akan sangat menarik investor adalah untuk memenuhi kebutuhan ternak qurban dan akikah, serta untuk keperluan pasar ekspor yang sangat menjanjikan. Peluang ini harus direspon sekaligus untuk mengupayakan penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan peternak, yang pada gilirannya akan memberi kontribusi pada pasokan bahan baku industri kulit dan perolehan devisa, melalui pemanfaatan sumberdaya lokal yang lebih optimal.

 

            Kondisi agroklimat di Indonesia cukup baik mendukung usaha pengembangan ternak kambing. Sumber daya lahan yang mendukung usaha peternakan antara lain sawah, lahan perkebunan, hutan rakyat, serta padang penggembalaan. Integrasi ternak ke lahan sawah dan perkebunan memberikan keuntungan timbal balik. Misalnya, limbah dari sawah dan kebun dimanfaatkan untuk pakan ternak, sedangkan ternak menyediakan pupuk organik bagi lahan.

            Sistem integrasi tanaman-ternak tersebut mengintegrasikan seluruh komponen usaha pertanian sehingga tidak ada limbah yang terbuang. Sistem ini sangat ramah lingkungan dan mampu memperluas sumber pendapatan dan menekan risiko kegagalan. Bahkan, semua limbah ternak dan pakan dapat diproses secara in-situ, untuk menghasilkan biogas sebagai alternatif energi. Residu proses pembuatan biogas ini yang berupa kompos merupakan sumber pupuk organik yang sangat dibutuhkan tanaman, sekaligus dapat memperbaiki struktur lahan. Jadi, pemanfaatan limbah pertanian hingga tidak ada lagi limbah yang terbuang (zero waste production system), akan bermakna melestarikan perputaran unsur hara dari tanah-tanaman-ternak-kembali ke tanah, secara sempurna.

            Berdasarkan ketentuan Pola Pangan Harapan, seharusnya konsumsi daging masyarakat Indonesia adalah 10,1 kg/kapita/tahun, tetapi baru tercapai separuhnya. Saat ini kekurangan produksi daging dalam negeri dipenuhi dari impor. Terdapat impor daging kambing/domba yang berfluktuatif antara 475,5 ton/tahun sampai 829,6 ton/tahun.

Indonesia mempunyai sumber daya ternak kambing lokal yang cukup baik dan adaptif dengan kondisi lingkungan Indonesia yang panas dan lembab. Kambing kacang tersebar hamper di seluruh Indonesia. Kambing PE dan silangannya (kambing jawa randu/bligon) banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Total populasi ternak kambing di Indonesia sekitar 14 juta ekor.

            Malaysia dan Brunei merupakan pasar potensial bagi ternak kambing di Indonesia. Demikian pula, pangsa pasar kambing di beberapa Negara Timur Tengah (khususnya Arab Saudi) sangat tinggi terutama untuk memenuhi kebutuhan ternak kurban (sekitar 3 juta ekor per tahun). Namun hingga kini permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Indonesia. Penyebabnya adalah peternak kambing ini tersebar pada peternakan rakyat dengan kualitas ternak yang sangat beragam sehingga menjadi kendala dalam memenuhi standar ekspor.

            Ada banyak faktor lagi yang mendukung usaha peternakan kambing di Indonesia termasuk kebijakan pemerintah yang selalu mendorong terciptanya usaha peternakan secara mandiri. Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi telah menghasilkan banyak teknologi peternakan yang dapat dimanfaatkan. Namun perkembangan peternakan di Indonesia hingga saat ini masih belum menggembirakan dengan berbagai alasan. Partisipasi semua pihak dalam membantu program pemerintah sangat diperlukan salah satunya adalah melalui pengembangan peternakan kambing berorientasi bisnis (agribisnis)

            Keuntungan ternak kambing dari data biologis yang tersedia, dapat diketahui potensi secara ekonomis, ukuran badan yang kecil berarti diperlukan investasi awal yang lebih kecil. Dengan demikian, kerugian karena kematian atau kehilangan ternak juga lebih kecil. Berdasarkan manajemen pemeliharaan, kambing dapat dikelola dengan mudah bahkan oleh anak-anak dan tidak memerlukan lahan dan kandang yang luas. Secara biologis, satu-dua ekor kambing dapat dipelihara dalam kondisi ketersediaan pakan terbatas.

            Kambing adalah pemakan semak, dalam keadaan bebas (digembalakan) mobilitasnya lebih tinggi dari domba dan mempunyai kemampuan untuk memilih pakan atau bagian tanaman yang lebih bergizi. Kambing mempunyai ketajaman rasa  untuk memilih jenis pakan tertentu. Kambing mampu berdiri di atas kedua kaki belakangnya untuk mendapat dedaunan yang agak tinggi letaknya. Tabiat makan seperti ini membantu ternak tersebut menghindari infeksi parasite cacing. Disamping itu, kemampuan ternak kambing untuk mencerna hijauan berserat kasar tinggi menjadikan ternak kambing mempunyai kemampuan untuk hidup di daerah-daerah yang relatif marjinal.

            Kambing adalah ternak yang fertil dengan generasi interval yang relatif pendek. Hal ini sangat baik dalam program perbaikan mutu genetik. Lama kebuntingan hanya 5 bulan sehingga produksi susu sudah dapat diperoleh pada umur 15-18 bulan. Untuk produksi daging, ternak sudah dapat dipotong pada umur dibawah satu tahun. Beberapa keuntungan lain yang dapat diperoleh dari beternak kambing adalah susunya sebagai sumber gizi yang sempurna. Susu kambing mempunyai kandungan gizi yang sangat lengkap menyerupai air susu ibu (ASI). Susu kambing dibandingkan dengan susu sapi memiliki butiran lemak yang lebih kecil dan homogen sehingga susu kambing lebih mudah dicerna. Susu kambing mengandung gizi yang seimbang dan mempunyai kualitas buffer yang lebih baik untuk mengatasi gangguan lambung.

            Selain keuntungan-keuntungan yang tersebut di atas ternak kambing sangat ideal sebagai sumber pendapatan utama. Ternak kambing juga bisa menjadi sumber pupuk organik juga sebagai ternak hiburan.